Hukum Negara Adikuasa RRC

Berita Paling hot yaitu  RRC pada 1 Juli akan melakukan sesuatu yang selama 80 tahun hanya bisa dilakukan oleh Amerika.

Beberapa hari lagi, pada 1 Juli, sebuah undang-undang yang tampak biasa saja akan berlaku.

Undang-undang itu berbunyi begini: Di mana pun kamu berada di dunia, jika kamu terlibat dalam hal yang disebut China sebagai "pemisahan" atau "merusak persatuan etnis", maka kamu bersalah menurut hukum China.

Meskipun kamu bukan orang China, meskipun seumur hidupmu belum pernah menginjak negara itu.

Mereka tidak bisa menangkapmu di negara asalmu, itu benar. Tapi kalau suatu hari kamu menginjak China atau Hong Kong, di situlah kamu akan diadili.

Sekilas ini seperti urusan dalam negeri Beijing.

Padahal makna sebenarnya dari undang-undang ini jauh lebih besar.

Karena dengan ini, China melakukan sesuatu yang selama 80 tahun di dunia hanya bisa dilakukan oleh Amerika.

Hukumnya dibawa keluar dari batas negaranya sendiri, ke seluruh dunia.

Yuk Kita kupas

Kapan sebenarnya sebuah negara menjadi kekuatan super sejati?

Bukan ketika tentaranya besar. Tapi ketika hukumnya melampaui batas negaranya sendiri dan berlaku juga di negara lain.

Amrik sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Dan dilakukan dengan cara paling licik, melalui uang.

Bagaimana caranya??

Di dunia, hampir seluruh perdagangan besar berputar dengan dolar, dan dolar itu melewati bank-bank Amerika.

Jadi meskipun kamu di Brasil berurusan dengan orang lain, begitu pembayarannya dalam dolar, transaksi itu sekejap melewati Amerika.

Nah, saat itulah hukum Amerika menempel padamu.

Jika kamu berdagang dengan negara yang dilarang Amerika untuk "berbisnis", entah kamu orang Turki atau Prancis, pengadilan Amerika bisa menghukummu.

Amerika sudah melakukannya berkali-kali.

Bank-bank Eropa yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Amerika, hanya karena melakukan transaksi dolar dengan negara yang dilarang, harus membayar denda miliaran dolar.

Tak ada yang bisa bilang "tidak adil". Karena kekuatan sekaligus uang ada di tangan Amerika.

Sekarang Beijing melakukan hal yang sama. Tapi bukan dengan uang, melainkan dengan senjata lain.

Dengan ukuran pasarnya sendiri.

Pasar China begitu besar sehingga tak ada perusahaan global mana pun, tak ada bank mana pun, yang berani kehilangannya.

Nah, Beijing kini mengubah kekuatan itu menjadi sebuah undang-undang.

Sendirian, undang-undang ini mungkin terlihat kecil. Tapi ini adalah batu bata terakhir dari tembok yang telah dibangun China selama bertahun-tahun.

Beijing dalam beberapa tahun terakhir diam-diam membangun perisai hukumnya sendiri.

Mereka mengeluarkan undang-undang yang tidak mengakui sanksi Amerika. Dan berkata pada perusahaannya sendiri, "Jika kalian patuh pada aturan Amerika, berarti kalian melanggar aturan saya."

Sekarang, mereka membawa hukumnya ke luar batas.

Semuanya melayani satu tujuan tunggal.

Kekuatan yang selama 80 tahun hanya dimiliki Amerika seorang diri, kini China juga ingin memilikinya.

Itulah inti masalahnya.

Masalahnya adalah: Di dunia sekarang, tak ada lagi satu-satunya penentu hukum.

Selama 80 tahun, Amerika yang menetapkan aturan, semua orang taat. Kini lahir pusat kedua.

Mulai sekarang, setiap perusahaan, setiap bank, setiap investor akan berhadapan dengan pertanyaan yang sama.

Maukah saya taat pada aturan Amerika, atau aturan China?

Di panggung ada minoritas, persatuan etnis.

Tapi sebenarnya permainan yang dimainkan jauh lebih besar. Batas sebenarnya dari sebuah kekaisaran bukanlah tempat tentaranya berhenti.

Melainkan tempat hukumnya mencapai.

Amerika menggambar batas itu 80 tahun lalu. China kini menggambar batasnya sendiri.

Catat: 1 Juli adalah batu pertama dari batas baru itu.

Waspadalah waspadalah 


#rrc #china #as #dunia #law #war

Strategi Perang Terbaru 2026 kedepan

 Setelah belajar dari perang Iran dan Terorist As dan Israhell, demikian juga Rusia dengan Ukraina Dunia Sudah Berubah Total

 Belajar dari Sengitnya Konflik di Ukraina dan Timur Tengah, Korea Selatan Langsung Mengambil Langkah Ekstrem dengan Menyiapkan Setengah Juta Prajuritnya untuk Menjadi 'Pasukan Drone' Masa Depan! 

Modernisasi militer bukan lagi sekadar punya tank baja besar atau jet tempur mahal. Di era digital sekarang, drone kecil yang lincah justru terbukti mampu mengacak-acak strategi pertahanan konvensional. Tak heran, Seoul kini merombak total doktrin militer mereka!

Ini dia rencana ambisius negeri tetangga kim jong un ini:

1. Misi Setengah Juta pasukan Drone

Dilansir dari laporan media internasional TRT Arabi, Kementerian Pertahanan Korea Selatan secara resmi mengumumkan rencana skala besar untuk melatih sekitar 500.000 personel militer mereka. Pelatihan intensif pengoperasian drone tempur ini tidak main-main, Sobat, karena akan mencakup seluruh matra mulai dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, hingga satuan Korps Marinir mereka.

  2. Drone Wajib Jadi Senjata Pribadi Prajurit

Menteri Pertahanan Korea Selatan, Shin Won-sik, menyatakan bahwa setiap prajurit masa depan harus memiliki kemampuan mengoperasikan drone dengan fasih, sama seperti mereka menggunakan senapan serbu pribadi. Langkah ini diambil setelah mengamati jalannya perang modern di Ukraina, di mana teknologi drone terbukti menjadi faktor krusial yang berhasil mengubah peta kekuatan di lapangan secara drastis.

  3. Borong Puluhan Ribu Drone hingga Senjata Laser

Demi memuluskan misi ini, pemerintah Korea Selatan langsung tancap gas membeli 11.000 drone komersial untuk kebutuhan pelatihan dasar di akhir tahun ini. Angka ini ditargetkan melonjak drastis hingga mencapai 60.000 unit drone pada tahun 2029 mendatang. Selain itu, pada tahun 2030 mereka juga bersiap memproduksi 20.000 drone tempur murah meriah, mempercepat proyek amunisi mandiri bernama K-Lucas, serta memperkuat benteng pertahanan anti-drone menggunakan teknologi senjata laser dan gelombang mikro (microwave) berenergi tinggi.

 Note:

Melihat parahnya simulasi kawanan drone yang terbang berparade rapat di atas barisan tank tempur modern itu benar-benar memberikan gambaran ngeri-ngeri sedap ya, Sobat. Ini membuktikan kalau di masa depan, pemenang perang bukan lagi siapa yang punya otot paling kekar atau baja paling tebal, tapi siapa yang paling cerdas mengendalikan teknologi dari balik layar. Berani macam-macam dengan Korea Selatan? Siap-siap saja dikepung kawanan lebah besi dari langit!

Gimana nih menurut pendapat kalian, Sobat pengamat militer? Apakah langkah Korea Selatan ini sudah tepat atau justru terlalu berisiko jika semua prajurit difokuskan ke teknologi drone?

Yuk, tulis analisis atau pendapat seru kalian di kolom komentar, dan jangan lupa bagikan kabar perkembangan teknologi militer dunia ini ke beranda kalian sekarang!

 TRT Arabi

#infoMiliter #TeknologiPerang #KoreaSelatan #war #perang #bakuhantam

Baru tahu, Rupanya ada Kasta-Kasta Dalam Kelompok Orang Yahudi di Israel

Baru tahu, Rupanya ada Kasta-Kasta Dalam Kelompok Orang Yahudi di Israel




TSM-Banyak dari kita berfikir bahwa semua orang Yahudi di Israel itu sama, memakai topi kecil hitam, berjanggut panjang, dan berhidung mancung layaknya seperti orang Eropa.

Yang sebenarnya adalah, bahkan di dalam masyarakat mereka sendiri, terdapat "kasta" atau diskriminasi yang cukup kental dan keras.

Mereka terbagi berdasarkan asal geografis, budaya, dan warna kulit. Mari kita bedah masing-masing secara santai namun ringkas.


1. Ashkenazi 

Ini adalah kelompok "elit" yang telah memegang kekuasaan politik, ekonomi, dan militer di Israel sejak tahun 1948. Berasal dari Eropa Tengah dan Timur (Jerman, Polandia, Rusia dan negara Eropa Timur lainnya).

Secara fisik bisa terlihat seperti rambut perak, cokelat muda/cokelat, bermata biru atau hijau. Ini cerita yang menarik, mereka terlihat seperti orang Eropa pada umumnya atau bule.

Mayoritas dari mereka 'sekuler' (tidak terlalu peduli dengan agama) tetapi merekalah yang membuat gerakan Zionis modern di tanah Palestina. Jika dari golongan mereka religius, mereka disebut Haredi.

Status Ashkenazi adalah warga 'Kelas Satu'. Perdana Mentri Israel dari masa lalu hingga sekarang atau sebagian besar adalah Ashkenazi, termasuk si Benyamin Netanyahu.


2. Sephardim 

Sephardim adalah kelompok yang lebih "dinamis" dalam hal budaya dan makanan. Asal keturunan Yahudi yang diusir dari Spanyol (Iberia) dan Portugal pada tahun 1492, kemudian melarikan diri ke Afrika Utara dan Kekaisaran Ottoman.

Secara fisik memiliki kulit sawo matang atau kuning muda, rambut hitam pekat. Terlihat seperti orang Arab atau Mediterania (Italia/Spanyol). Tingkat keagamaan atau spritualnya lebih konservatif dan sangat berpegang teguh pada tradisi daripada Ashkenazi. Status sosial Sephardim adalah kelas menengah (tetapi sering dipandang rendah oleh kaum Ashkenazi).


3. Mizrahi

Mizrahi dalam bahasa Ibrani berarti "Timur". Mereka berasal dari suku bangsa Yahudi yang telah lama tinggal di negara-negara Arab dan Islam (Irak, Yaman, Iran, Maroko, Mesir). Secara fisik tampak persis seperti orang Arab kebanyakan. Jika membandingkan mereka dengan seorang pedagang yang menjual kurma di Baghdad, tidak akan bisa membedakannya sama sekali!

Tingkat spiritual keagamaan Mizrahi sangat teguh dalam agama dan tradisi ortodoks dan status sosial mereka adalah Kelas Dua. Ketika mereka pertama kali bermigrasi ke Israel, mereka ditempatkan di kamp transit yang kumuh (seperti ghetto) dan disuruh meninggalkan budaya Arab mereka karena mereka dianggap "golongan tua/kolot".


4. Falasha (Yahudi Hitam)

Ini adalah kelompok yang paling menyedihkan dalam rantai sosial Israel. Falasha berasal dari Ethiopia, Afrika. Mereka mengklaim sebagai keturunan Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis. Ciri fisiknya adalah berkulit hitam, penampilan fisik orang dari Afrika Timur.

Tingkat spiritual keagamaan mereka sangat ortodoks tetapi cara mereka menjalankan agama mereka sedikit berbeda karena mereka telah terputus dari dunia luar selama ribuan tahun. Status Kasta kelompok Falasha adalah terendah.

Pernah terjadi skandal besar di mana rumah sakit di Israel membuang darah yang disumbangkan oleh orang-orang Falasha karena mereka takut akan penyakit "Afrika".


Mengapa Ada Diskriminasi?

Mengapa Ashkenazi memperlakukan Sephardim, Mizrahi, dan Falasha seperti warga negara kelas dua?

1. Supremasi Eropa: Ashkenazi merasa mereka "unggul" karena mereka membawa ideologi Barat, sains, dan sistem politik Eropa.

Mereka menganggap orang Yahudi dari negara-negara Arab (Mizrahi) dan negara-negara Afrika (Falasha) sebagai orang yang tidak beradab.


2. Ketakutan Budaya: Kaum Ashkenazi takut jika kaum Mizrahi terlalu dominan, Israel akan menjadi "Negara Arab" secara budaya.

Jadi, mereka mencoba untuk meng-Ashkenisasi (meng-Eropakan) semua kelompok lain.

3. Warna Kulit: Pada kenyataannya, rasisme berdasarkan warna kulit memang ada. Semakin gelap warna kulit mereka, akan semakin sulit untuk mendapatkan posisi tinggi di pemerintahan atau militer di Israel.

Mereka tidak semuanya sama. Bahkan di "negara" yang mereka klaim untuk semua orang Yahudi, mereka masih bertengkar di antara mereka sendiri tentang warna kulit dan asal-usul. (Berbagai Sumber)


Admin