Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts

Penemu Rumus Trigonometri, Abul Wafa


Abu Wafa atau Abul Wafa atau Abu Al-Wafa atau nama panjangnya Abu Al-Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Ibn Abbas al-Buzjani. beliau terlahir di Buzjan, kota Khurasan (negera Iran) yakni pada tanggal 10 Juni 940/328 H. beliau belajar matematika kepada pamannya yakni Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba serta Abu Umar Al-Maghazli. Sedangkan, ilmu geometri yang dikenalnya itu dari Abu Al-Ala’ Ibn Karnib serta dari Abu Yahya Al-Marudi.

Abu Al-Wafa adalah seorang saintis yang memiliki kemampuan serba bisa. Selain beliau jago di bidang matematik, beliau pun juga sangat terkenal sebagai astronom dan insinyur yang populer pada zamannya waktu itu.

pemikira serta kiprahnya beliau di bidang sains, sangat patut diakui oleh peradaban Barat. Bahkan sebagai bentuk dari wujud pengakuan dunia atas jasa beliau yang telah mengembangkan astronomi, organisasi astronomi dunia telah sepakat untuk mengabadikannya dan memberikannya nama yakni salah satu kawah bulan.

Dalam bidang ilmu matematik, Abu Al-Wafa pun banyak memberikan kontribusi (sumbangan) yang sangat penting dalam hal pengembangan ilmu berhitung (matematik) itu.

Menurut ilmuwan islam Kattani.{” Abu Al-Wafa merupakan matematikus terbesar pada abad ke-10 M “}. Betapa tidak, dalam sepanjang masa hidupnya, Abu Al-Wafa telah berjasa dalam melahirkan sederet inovasi yang sangat penting bagi ilmu matematika. Beliau tercatat telah menulis kritikan atas pemikiran oleh Eucklid, Diophantos serta Al-Khawarizmi, Namun sayang sekarang risalah tersebut telah hilang.

Sang ilmuwanpun (Abu Al-Wafa) mewariskan Kitab yang berjudul Al-Kami (Buku Lengkap) yang isinya membahas tentang aritmatika (ilmu hitung) praktis. Tidak hanya itu Abu Al-Wafa juga memberikan kontribusi lain yang pastinya tidak kalah penting dalam bidang ilmu matematik yaitu Kitab Al-Handasa dimana dalam kitab tersebut mengkaji perihal penerapan geometri. Beliau sangat berjasa besar dalam mengembangkan ilmu trigonometri tersebut.

Abu Al-Wafa tercatat sebagai pakar matematikus pertama yang menemukan rumus umum “si nus”. Selain itu juga, sang matematikus ini pun telah memaparkan metode baru dalam membentuk tabel sinus tersebut. Beliau juga membenarkan bahwa nilai sinus 30° (derajat) ke-tempat desimel kedelapan. Yang paling lebih mengagumkan lagi, beliau (Abu Al-Wafa) membuat studi khusus mengenai “ta-ngen” serta menghitung sebuah tabel “ta-ngen” tersebut.

Jika pastinya kita telah mempelajari matematika tentunya kita pernah dengar atau mengenal kata istilah “secan” dan “co secan”. Ternyata, Abul Al-Wafa lah yang pertama kali membuat istilah matematika terebut. Abu Al-Wafa sangat dikenal akan kejeniusannya dalam bidang ilmu geometri. Beliau juga mampu menyelasikan problematika tentang geometri dengan sangat tangkas dan lugas.

Penemuan dari hasil buah pemikiran beliau pun sangat berpengaruh di dunia Barat. Seperti pada abad ke-19 M, pakar ilmuawan barat, Baron Carra de Vaux yang mengambil konsep secan dari ilmu yang dicetuskan oleh Abu Al-Wafa Sang Ilmuwan Islam tersebut. Namun sayangnya, di dunia Islam justru nama beliau sangat tidak populer bahkan jarang terdengar dan nyaris tidak terdengar sama sekali. Bagaimana tidak, hampir pelajaran sejarah dalam peradaban Islam yang diajarkan di negeri ini hanya mengulas serta memperkenalkan sosok Abu Al-Wafa saja. Sungguh ironis negeri ini.

Sang matematikus terhebat pada abad ke-10 itu pun tutup usia yakni pada tanggal 15 Juli 998 di kota Baghdad, Irak. Akan tetapi hasil karya dari beliau serta berbagai pemikirannya tersebut hingga kini masih tetap hidup, Seperti julukannya tersebut.

Abadi di Kawah Bulan
Abu Al-Wafa memang sangat fenomenal. Meski dalam dunia Islam modern kini namanya tidak terlalu dikenal, Akan tetapi di dunia Barat sosok dari Abu Al-Wafa ini justru sangat berkilau. Sangat tidak heran, jikalau sang ilmuwan Muslim (Abu Al-Wafa) itu begitu sangat dihormati dan disegani oleh dunia Barat. dan Orang Barat pun tetap menyebutnya dengan nama sebutan Abul Wafa/ Abu Wafa. Untuk menghormati atas pengabdian dan dedikasi beliau dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu astronomi namanya pun telah diabadikan di “kawah bulan”.

Di antara deretan para ulama dan ilmuwan Islam, hanya terdapat 24 tokoh saja yang hingga kini diabadikan di kawah bulan serta mereka telah mendapatkan pengakuan resmi dari IAU (Organisasi Astronomi Internasional). Ke-24 tokoh Muslim tersebut salah satunya adalah Abul Wafa/ Abu Al-Wafa.
Kebanyakan, pakar ilmuwan Muslim di abadikan di kawah bulan oleh Barat. Kawah bulan Abu Al-Wafa terletak pada koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur. Dan diameter kawah bulan Abul Wafa ini diameternya mencapai 55 km dengan Kedalaman kawah bulan yamg telah mencapai 2,8 km. Pada lokasi kawah bulan beliau (Abu Al-Wafa) sendiri terdapat (terletak) di dekat ekuator bulan.

Matematika ala Abul Al-Wafa/ Abu Wafa
Abu Al-Wafa memiliki kontribusi jasa terbesar dalam bidang studi matematika yaitu “Trigonometri”. Trigonometri sendiri berasal dari istilah atau kata trigonon = “tiga sudut” dan metro = “mengukur”. Ini merupakan sebuah cabang matematik yang berhadapan dengan sudut segitiga serta fungsi trigonometrik itu misalnya sinus (sin), cosinus (cos), dan tangen (tan), yang merupakan sudut istimewa.

Abu Al-Wafa Secara khusus telah dapat dan berhasil menyusun suatu rumus yang hingga kini menjadi identitas dari trigonometri itu sendiri. Inilah rumus yang dihasilkan beliau itu:


sin(a + b) = sin(a)cos(b) + cos(a)sin(b)
cos(2a) = 1 – 2sin2(a)
sin(2a) = 2sin(a)cos(a)



Selain rumus diatas tersebut, Abul Al-Wafa pun juga telah berhasil membentuk sebuah rumus geometri untuk parabola, seperti berikut ini :

x4 = a and x4 + ax3 = b.

Berbagai Rumus penting tersebut, tentu hanyalah secuil dari hasil pemikiran oleh Abu Al-Wafa yang sampai saat ini masih bertahan. Kemampuan beliau dalam menciptakan berbagai rumus baru pada ilmu matematika, telah membuktikan bahwasanya Abu Al-Wafa adalah pakar matematikus Muslim yang sangat jenius sekali.


Ibnu Haitham, Sang Penemu Kamera?

   PADA zaman modern seperti sekarang, orang sudah tidak asing lagi dengan salah satu alat untuk mengabadikan objek bernama kamera. Bahkan di era informasi saat ini, kamera seolah-olah sudah menjadi alat yang ‘wajib’ dimiliki setiap orang, karena ukurannya sudah sedemikian ringkas dan terintegrasi dengan alat komunikasi seperti telepon genggam.Namun, tahukah Anda bahwa kamera adalah salah satu karya dari ilmuwan Muslim asal Iraq bernama Ibnu al-Haitham?

Kata ‘Kamera’ sebenarnya berasal dari bahasa arab yaitu kamrah yang berarti ‘ruangan’. Kamrah yang dirancang oleh Ibnu Al-Haitham berfungsi untuk membuat gambar objek jauh di dalam ruangan gelap. Kamrah ini berkembang pesat dari waktu ke waktu, sebagaimana dapat kita lihat pada perkembangan zaman saat ini, berbagai macam jenis kamera diciptakan, mulai dari pocket, semi profesional, hingga yang profesional. Dari kamera ‘analog’ yang membutuhkan film untuk mencetak gambar, hingga kamera digital yang berkembang pesat saat ini.

Pada dasarnya rancangan semua kamera yang ada saat ini, prinsipnya sama dengan rancangan yang digunakan oleh Ibnu Haitham.
Ibnu Haitham atau Alhazen, begitu orang Barat menyebutnya, dunia memberinya gelar kehormatan sebagai “Bapak Optik.” Bernama lengkap Abu Ali Muhammad ibnu Al-Hasan ibnu Al-Haytham. Ia merupakan sarjana Muslim terkemuka yang lahir di Basrah, Iraq pada tahun 965 M.
Penelitiannya tentang cahaya memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler yang menciptakan mikroskop serta teleskop. Ibnu Haitham adalah orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya. Karya tulisnya tak kurang dari 200 judul buku.
Dalam karya monumentalnya, Kitab Al-Manadhir, teori optik pertama kali dijelaskan. Hingga 500 tahun kemudian, teori Ibnu Haitham ini dikutip banyak ilmuwan.Tak banyak orang yang tahu bahwa orang pertama yang menjelaskan soal mekanisme penglihatan pada manusia (yang menjadi dasar teori optik modern) adalah ilmuwan Muslim asal Iraq tersebut.

Selama lebih dari 500 tahun, kitab Al-Manadhir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik. Pada 1572, karya Ibnu Haytham ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul “Opticae Thesaurus.”

Ibnu Haitham juga mencatatkan namanya sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Ia memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Salah satu teorinya yang terkenal adalah ketika ia mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, yaitu Ptolemy dan Euclid.

Namun sayang, karya ilmiahnya hanya sedikit yang tersisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab Al-Manadhir, tidak diketahui lagi rimbanya. Saat ini orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin

INILAH SEDIKIT ISI KITAB TADZKIRAH ALIRAN AHMADIYAH

Inilah Wahyu Palsu Mirza Ghulam Ahmad

Kisah Cinta Nabi Mirza Ghulam Ahmad
di Dalam Tadzkirah
(Tadzkirah, hal. 162, cetakan 1956, Rabwah)
(dikutipkan oleh ust Abu Fatimah, Lc)

Inilah wahyu suci yang diklaim oleh Mirza Ghulam Ahmad.
فَأَوْحَى اللهُ إِلَيَّ أَنْ اخْطُبْ صَبِيَّتَهُ الْكَبِيْرَةَ لِنَفْسِكَ وَ قُلْ لَهُ لِيُصَاهِرْكَ أَوَّلًا ثُمَّ لْيَقْتَبِسْ مِنْ قَبَسِكَ وَ قُلْ إِنِّيْ أُمِرْتُ لِأَهْبَكَ مَا طَلَبْتَ مِنَ الْأَرْضِ وَ أَرْضًا أُخْرَى مَعَهَا وَ أُحْسِنَ إِلَيْكَ بِإِحْسَانَاتٍ أُخْرَى عَلَى أَنْ تُنْكِحَنِيْ إِحْدَى بَنَاتِكَ الَّتِيْ هِيَ كَبِيْرَتُهَا وَذَلِكَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ، فَإِنْ قَبِلْتَ فَسَتَجِدُنِيْ مِنَ الْمُتَقَبِّلِيْنَ، وَ إِنْ لَمْ تَقْبَلْ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَخْبَرَنِيْ أَنَّ إِنْكَاحَهَا رَجُلًا آخَرَ لَا يُبَارَكُ لَهَا وَلَا لَكَ فَإِنْ لَمْ تَزْدَجِرْ فَيُصَبُّ عَلَيْكَ مَصَائِبُ وَ آخَرُ الْمَصَائِبِ مَوْتُكَ فَتَمُوْتُ بَعْدَ النِّكَاحِ إِلَى ثَلَاثِ سِنِيْنَ بَلْ مَوْتُكَ قَرِيْبٌ وَ يَرِدُ عَلَيْكَ وَ أَنْتَ مِنَ الْغَافِلِيْنَ، وَكَذلِكَ يِمُوْتُ بَعْلُهَا الَّذِيْ يَصِيْرُ زَوْجُهَا إِلَى حَوْلَيْنِ وَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ قَضَاءً مِنَ اللهِ فَاصْنَعْ مَا أَنْتَ صَانِعُهُ وَ إِنِّيْ لَكَ لَمِنَ النَّاصِحِيْنَ.
“Allah telah mewahyukan kepadaku (Mirza Ghulam Ahmad), “Lamarlah olehmu anak gadis (Ahmad Baig) yang tertua untuk dirimu dan katakanlah kepadanya (Ahmad Baig), ‘Hendaknya dia menjadikanmu sebagai menantu untuk pertama kalinya dan hendaklah dia (Ahmad Baig) mengambil faedah/manfaat darimu. Dan katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan (oleh Allah) agar aku memberikan kepadamu apa yang engkau inginkan dari tanah dan tanah lainnya dan agar aku berbuat baik kepadamu dengan kebaikan yang lainnya (dengan syarat) agar engkau mau menikahkan aku dengan salah satu puterimu yang dia itu adalah puterimu yang tertua (anak pertama Ahmad Baig). Dan hal ini (adalah kesepakatan) antara aku denganmu. Apabila engkau (Ahmad Baig) mau menerima hal ini, maka engkau akan menemukan aku termasuk di antara orang-orang yang menerima (rela). Dan jika engkau tidak menerima (kesepakatan ini), maka ketahuilah sesungguhnya Allah telah memberitahuku bahwa (apabila) anak gadismu menikah dengan lelaki lain, maka Allah tidak akan memberikan keberkahan kepada anak gadismu dan juga dirimu. Kalau kamu (Ahmad Baig) tidak mengerti, (sekarang juga) kamu akan mendapat banyak musibah dan musibah yang terakhir adalah kematianmu. Kamu akan mati dalam tempo 3 tahun setelah pernikahan anak gadismu. Bahkan kematianmu sudah sangat dekat dan semakin mendekatimu padahal engkau dalam keadaan lalai. Demikian juga suami (suami anak gadismu) akan meninggal dunia dalam tempo 2 tahun 6 bulan, sebagai ketentuan dari Allah. Maka dari itu, kerjakanlah olehmu (semua keinginan aku ini) dan aku bagimu ini termasuk dari orang-orang yang memberikan nasihat.”

Adapun di dalam halaman 166 dinyatakan,
وَ أَخْبَرَنِيْ وَ قَالَ إِنَّنِيْ سَأَجْعَلُ بِنْتًا مِنْ بَنَاتِهِمْ آيَةً لَهُمْ فَسَمَّاهَا وَ قَالَ إِنَّهَا سَيُجْعَلُ ثَيِّبَةً وَيَمُوْتُ بَعْلُهَا وَ أَبُوْهَا إِلَى ثَلَاثِ سَنَةٍ مِنْ يَوْمِ النِّكَاحِ ثُمَّ نَرُدُّهَا إِلَيْكَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَ لَا يَكُوْنُ أَحَدُهُمَا مِنَ الْعَاصِمِيْنَ.
“Tuhan telah memberitahuku dan Dia berfirman, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan anak gadis di antara anak-anak gadis mereka itu sebagai tanda bagi mereka maka Dia pun menyebutkan namanya dan berfirman, ‘Sesungguhnya gadis tersebut (puteri Ahmad Baig) akan dijadikan (menjadi) seorang janda dan suaminya akan meninggal dunia begitu juga dengan bapaknya si gadis (Ahmad Baig) dalam tempo 3 tahun dari hari pernikahannya. Kemudian Kami akan mengembalikan gadis tersebut kepadamu (Mirza Ghulam Ahmad) sepeninggal suaminya dan salah satu dari keduanya tidak termasuk dari orang-orang yang mendapatkan perlindungan.”

Tapi sayang, karena wahyu ini adalah wahyu palsu, maka seluruh ramalannya pun tidak terbukti, kasihan deh kaum hai Mirza Ghulam Ahmad !!! Yang lebih kasihan lagi adalah orang-orang yang sudah tertipu dengan ajaran Ahmadiyah ini, hanya gara-gara diberi uang yang tidak seberapa. Coba bandingkan saja, berapa lama manusia akan hidup di dunia? Tapi coba bayangkan berapa lama manusia akan hidup di akhirat? Kekal!!! Kalau celaka di dunia, maka sudah jelas, di akhirat akan celaka juga!!! Naudzubillah min dzalik.

Mereka yang telah menjadi jemaat Ahmadiyah, sebenarnya sedang menukar kesenangan yang abadi di akhirat dengan harga yang murah (dunia ini). Apakah kalian tidak berfikir??? Mudah-mudahan, Allah SWT segera memberikan petunjuk-Nya kepada mereka yang telah tersesat. Kalau tetap ngotot juga bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi dan rasul Allah SWT, maukah kalian bermubahalah?

http://muslimina.blogspot.com/2013/11/inilah-wahyu-palsu-mirza-ghulam-ahmad.html

Tujuh Golongan Manusia yang Dimuliakan oleh Allah

Nabi Saw bersabda: Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada Masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: “Aku takut kepada Allah”, seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya, (HR Bukhari).Tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan dari Allah yang pada hari itu tidak ada perlindungan kecuali hanya perlindungan Allah.
 
1. Imamun adil, pemimpin yang adil, hakim yang adil. Subhanallah, terdepan, yang pertama mendapat perlindungan Allah. Dan sungguh negeri Indonesia yang tercinta ini sangat merindukan pemimpin yang adil, hakim yang adil.

2. Manusia yang aktif, gesit, dalam ibadah kepada Allah SWT. Aktivitasnya mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

3. Manusia, hamba Allah, yang hatinya senang berada di dalam Masjid. Dia betah di masjid. Shalat berjama’ah, ia senang, subuh-subuh ia menegakkan shalat berjamaah. Allahu Akbar, tentu ini hamba Allah yang benar-benar beriman kepada Allah.

4. Manusia yang bersedakah yang tangan kanannya memberi tapi tangan kirinya tidak tahu. Subhanallah.. Apa ini? Orang yang ikhlash, tidak riya, tidak ujub.

5. Manusia yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah, berpisah karena Allah.

6. Manusia yang dirayu, digoda, oleh wanita cantik yang memiliki kekayaan, lalu ia berkata: “Aku takut kepada Allah”. Keinginan maksiatnya ada, tapi rasa takutnya kepada Allah lebih hebat, sehingga ia tidak mau melakukan kemaksiatan. Kita sangat merindukan pemuda, yang memiliki kualitas keimanan yang luar biasa, sehingga ia mampu menahan dari berbagai macam godaan.

7. Manusia atau hamba Allah, atau orang yang dalam ingatannya kepada Allah, dalam ibadahnya, dalam doanya, dalam dzikirnya, ia menangis. Allahu Akbar, menangis.. Dua tetesan yang dibanggakan Allah di hari kiamat, pertama tetesan darah fii sabilillah, kedua tetesan air mata karena menangis, takut azab Allah, karena merasa bersalah atas segala dosa yang ia lakukan kepada Allah, karena ia sangat mencintai Allah. 

Semoga Kita termasuk salah satu diantara 7 golongan. amiin...

Alasan Mengapa Hawa Tercipta Saat Adam Tidur

Alasan Mengapa Hawa Tercipta Saat Adam Tidur

Dalam berbagai riwayat diceritakan bahwa ketika Adam diciptakan oleh Allah dan ditempatkan di surga, dia merasa kesepian karena tidak ada kawan. Surga yang begitu luas hanya dia sendiri yang menghuninya. Karena itu Adam memohon kepada Allah agar diberikan seorang teman.

Ketika Adam sedang terlelap tidur, Allah mengambil 1 (satu) tulang rusuk Adam untuk menciptakan manusia lain sebagai teman bagi Adam. Hadirlah Hawa di samping Adam. Ada pertanyaan yang muncul kemudian. Mengapa Hawa yang tercipta dari tulung rusuk Adam ini diciptakan Allah ketika Adam tertidur?

Inilah alasannya. Seorang laki-laki jika dia kesakitan, maka dia akan membenci. Sebaliknya wanita, saat dia kesakitan, maka semakin bertambah sayang dan cintanya,, Seandainya Hawa diciptakan dari Adam saat Adam terjaga, pastilah Adam akan merasakan sakit keluarnya Hawa dari sulbinya, hingga dia membenci Hawa. Akan tetapi Hawa diciptakan dari Adam saat dia tertidur, agar Adam tidak merasakan sakit dan tidak membenci Hawa.

Berbeda dengan seorang wanita. Wanita akan melahirkan dalam keadaan terjaga, melihat kematian dihadapannya karena proses melahirkan itu, namun dia akan semakin sayang dan cinta kepada anak yang dilahirkan bahkan ia rela menebusnya dengan kehidupannya.

Sesungguhnya Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk yang bengkok yang tugasnya adalah melindungi Qalbu (jantung, hati nurani). Oleh karena itu, tugas Hawa adalah menjaga qalbu. Kemudian Allah menjadikan nya bengkok untuk melindungi qalbu dari sisi yang kedua. Sementara Adam diciptakan dari tanah, dia akan menjadi petani, tukang batu, tukang besi, dan tukang kayu. Wanita selalu berinteraksi dengan perasaaan, dengan hati, dan wanita akan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang, seorang saudari yang penyayang, seorang putri yang manja, dan seorang istri yang penurut.

Dan wajib bagi Adam untuk tidak berusaha meluruskan tulang yang bengkok tersebut dengan paksa, seperti yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW, â??jika seorang lelaki meluruskan yang bengkok tersebut dengan serta merta, maka dia akan mematahkannya.â?? Maksud nya adalah dengan kebengkokan tersebut adalah perasaan yang ada pada diri seorang wanita yang mengalahkan perasaan seorang laki-laki.

Karena itu wahai kaum Adamâ?¦ janganlah merendahkan perasaan Hawa, dia memang diciptakan seperti itu. Apabila seseorang wanita mengatakan dia sedang bersedih, tetapi dia tidak menitikkan airmata, itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya. Apabila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya, lebih baik beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu meminta maaf. Dan wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci pada orang yang paling dia sayang .

mengambil Hikmah Dari Para Sahabat rasul!!

"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

bersambung

Pasukan Islam Anda Lusia

Apakah anda tahu apa yang ada dalam foto ini?!
Sesungguhnya itu adalah bendera pasukan Islam di Andalusia pada hari pertempuran hukuman..!!
Yang mana kaum muslimin mengalami kekalahan dan kaum salibis mendapatkan bendera itu sebagai ghanimah..!
Dan mereka masih terus memeliharanya sampai hari ini..!
Sejak saat itu mereka selalu merayakan peringatan kemenangan mereka karena hal itu merupakan permulaan hilangnya Andalusia..!!
Dalam foto terlihat prajurit-parajurit dan perwira-perwira militer Spanyol berjalan kaki di jalan-jalan sambil mengangkat bendera kaum muslimin dalam mengenang hari pertempuran..!!

Jika kita kaum muslimin telah melupakannya..maka orang-orang Spanyol justru selalu mengenangnya..!!
Mereka merayakan kekalahan kita, sedang kita justru merayakan kemenangan mereka dalam turnamen piala euro..!!
Bila kita tidak mau mempelajari sejarah kita sendiri maka kita memang layak mendapatkan kehinaan dan pelecehan..!!