Showing posts with label Dakwah Islam. Show all posts
Showing posts with label Dakwah Islam. Show all posts

Penemu Rumus Trigonometri, Abul Wafa


Abu Wafa atau Abul Wafa atau Abu Al-Wafa atau nama panjangnya Abu Al-Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Ibn Abbas al-Buzjani. beliau terlahir di Buzjan, kota Khurasan (negera Iran) yakni pada tanggal 10 Juni 940/328 H. beliau belajar matematika kepada pamannya yakni Abu Abdullah Muhammad Ibn Ataba serta Abu Umar Al-Maghazli. Sedangkan, ilmu geometri yang dikenalnya itu dari Abu Al-Ala’ Ibn Karnib serta dari Abu Yahya Al-Marudi.

Abu Al-Wafa adalah seorang saintis yang memiliki kemampuan serba bisa. Selain beliau jago di bidang matematik, beliau pun juga sangat terkenal sebagai astronom dan insinyur yang populer pada zamannya waktu itu.

pemikira serta kiprahnya beliau di bidang sains, sangat patut diakui oleh peradaban Barat. Bahkan sebagai bentuk dari wujud pengakuan dunia atas jasa beliau yang telah mengembangkan astronomi, organisasi astronomi dunia telah sepakat untuk mengabadikannya dan memberikannya nama yakni salah satu kawah bulan.

Dalam bidang ilmu matematik, Abu Al-Wafa pun banyak memberikan kontribusi (sumbangan) yang sangat penting dalam hal pengembangan ilmu berhitung (matematik) itu.

Menurut ilmuwan islam Kattani.{” Abu Al-Wafa merupakan matematikus terbesar pada abad ke-10 M “}. Betapa tidak, dalam sepanjang masa hidupnya, Abu Al-Wafa telah berjasa dalam melahirkan sederet inovasi yang sangat penting bagi ilmu matematika. Beliau tercatat telah menulis kritikan atas pemikiran oleh Eucklid, Diophantos serta Al-Khawarizmi, Namun sayang sekarang risalah tersebut telah hilang.

Sang ilmuwanpun (Abu Al-Wafa) mewariskan Kitab yang berjudul Al-Kami (Buku Lengkap) yang isinya membahas tentang aritmatika (ilmu hitung) praktis. Tidak hanya itu Abu Al-Wafa juga memberikan kontribusi lain yang pastinya tidak kalah penting dalam bidang ilmu matematik yaitu Kitab Al-Handasa dimana dalam kitab tersebut mengkaji perihal penerapan geometri. Beliau sangat berjasa besar dalam mengembangkan ilmu trigonometri tersebut.

Abu Al-Wafa tercatat sebagai pakar matematikus pertama yang menemukan rumus umum “si nus”. Selain itu juga, sang matematikus ini pun telah memaparkan metode baru dalam membentuk tabel sinus tersebut. Beliau juga membenarkan bahwa nilai sinus 30° (derajat) ke-tempat desimel kedelapan. Yang paling lebih mengagumkan lagi, beliau (Abu Al-Wafa) membuat studi khusus mengenai “ta-ngen” serta menghitung sebuah tabel “ta-ngen” tersebut.

Jika pastinya kita telah mempelajari matematika tentunya kita pernah dengar atau mengenal kata istilah “secan” dan “co secan”. Ternyata, Abul Al-Wafa lah yang pertama kali membuat istilah matematika terebut. Abu Al-Wafa sangat dikenal akan kejeniusannya dalam bidang ilmu geometri. Beliau juga mampu menyelasikan problematika tentang geometri dengan sangat tangkas dan lugas.

Penemuan dari hasil buah pemikiran beliau pun sangat berpengaruh di dunia Barat. Seperti pada abad ke-19 M, pakar ilmuawan barat, Baron Carra de Vaux yang mengambil konsep secan dari ilmu yang dicetuskan oleh Abu Al-Wafa Sang Ilmuwan Islam tersebut. Namun sayangnya, di dunia Islam justru nama beliau sangat tidak populer bahkan jarang terdengar dan nyaris tidak terdengar sama sekali. Bagaimana tidak, hampir pelajaran sejarah dalam peradaban Islam yang diajarkan di negeri ini hanya mengulas serta memperkenalkan sosok Abu Al-Wafa saja. Sungguh ironis negeri ini.

Sang matematikus terhebat pada abad ke-10 itu pun tutup usia yakni pada tanggal 15 Juli 998 di kota Baghdad, Irak. Akan tetapi hasil karya dari beliau serta berbagai pemikirannya tersebut hingga kini masih tetap hidup, Seperti julukannya tersebut.

Abadi di Kawah Bulan
Abu Al-Wafa memang sangat fenomenal. Meski dalam dunia Islam modern kini namanya tidak terlalu dikenal, Akan tetapi di dunia Barat sosok dari Abu Al-Wafa ini justru sangat berkilau. Sangat tidak heran, jikalau sang ilmuwan Muslim (Abu Al-Wafa) itu begitu sangat dihormati dan disegani oleh dunia Barat. dan Orang Barat pun tetap menyebutnya dengan nama sebutan Abul Wafa/ Abu Wafa. Untuk menghormati atas pengabdian dan dedikasi beliau dalam menerapkan dan mengembangkan ilmu astronomi namanya pun telah diabadikan di “kawah bulan”.

Di antara deretan para ulama dan ilmuwan Islam, hanya terdapat 24 tokoh saja yang hingga kini diabadikan di kawah bulan serta mereka telah mendapatkan pengakuan resmi dari IAU (Organisasi Astronomi Internasional). Ke-24 tokoh Muslim tersebut salah satunya adalah Abul Wafa/ Abu Al-Wafa.
Kebanyakan, pakar ilmuwan Muslim di abadikan di kawah bulan oleh Barat. Kawah bulan Abu Al-Wafa terletak pada koordinat 1.00 Timur, 116.60 Timur. Dan diameter kawah bulan Abul Wafa ini diameternya mencapai 55 km dengan Kedalaman kawah bulan yamg telah mencapai 2,8 km. Pada lokasi kawah bulan beliau (Abu Al-Wafa) sendiri terdapat (terletak) di dekat ekuator bulan.

Matematika ala Abul Al-Wafa/ Abu Wafa
Abu Al-Wafa memiliki kontribusi jasa terbesar dalam bidang studi matematika yaitu “Trigonometri”. Trigonometri sendiri berasal dari istilah atau kata trigonon = “tiga sudut” dan metro = “mengukur”. Ini merupakan sebuah cabang matematik yang berhadapan dengan sudut segitiga serta fungsi trigonometrik itu misalnya sinus (sin), cosinus (cos), dan tangen (tan), yang merupakan sudut istimewa.

Abu Al-Wafa Secara khusus telah dapat dan berhasil menyusun suatu rumus yang hingga kini menjadi identitas dari trigonometri itu sendiri. Inilah rumus yang dihasilkan beliau itu:


sin(a + b) = sin(a)cos(b) + cos(a)sin(b)
cos(2a) = 1 – 2sin2(a)
sin(2a) = 2sin(a)cos(a)



Selain rumus diatas tersebut, Abul Al-Wafa pun juga telah berhasil membentuk sebuah rumus geometri untuk parabola, seperti berikut ini :

x4 = a and x4 + ax3 = b.

Berbagai Rumus penting tersebut, tentu hanyalah secuil dari hasil pemikiran oleh Abu Al-Wafa yang sampai saat ini masih bertahan. Kemampuan beliau dalam menciptakan berbagai rumus baru pada ilmu matematika, telah membuktikan bahwasanya Abu Al-Wafa adalah pakar matematikus Muslim yang sangat jenius sekali.


Penelitian Ultrasonic, TERBUKTI! SEMUA BENDA BERTASBIH MEMUJI ALLAH!

TERBUKTI! SEMUA BENDA BERTASBIH MEMUJI ALLAH!: Penelitian Ultrasonic, seorang ilmuwan Amerika masuk Islam

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkanbahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.
Juga ketika lafada Allah terdengar, getaran di atas suara (ultrasonic / ultra sound) tersebut berubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditangkap oleh monitor. Mukjizat ini membuat seorang ilmuwan terkenal Amerika memilih masuk Islam.
Dilaporkan bahwa sebuah tim ilmuwan dari Amerika menemukan bahwa sebagian dari tumbuh-tumbuhan khatulistiwa juga mengeluarkan frekuensi di atas suara tersebut. Dan itu hanya dapat ditangkap oleh perangkat canggih.Para ilmuwan ini selama tiga tahun melakukan penelitian dan melihat fenomena seperti ini membuat mereka tercengang sangat terheran-heran.Para ilmuwan berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah) dengan sebuah alat canggih yang bernama oscilloscope.
 
Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik ini dapat diubah menjadi gelombang elektrik optik dan lebih dari 1000 kali dalam satu detik persekon berulang-ulang!Prof. William Brown (alm.) yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika dan Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengang tidak tahu harus komentar apa. Saat tim ini membuktikan penemuan mereka di hadapan sebuah tim peneliti Inggris. Kebetulan dalam tim itu ada seorang yang beragama Islam.
 
Setelah melakukan uji coba selama lima hari, ilmuwan Inggris juga menjadi terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat. Namun, ilmuwan muslim ini mengatakan bahwa hal ini sudah diyakini oleh kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Mereka yang mendengar ucapan itu memintanya untuk lebih jauh menjelaskan masalah yang disebutnya. Ia kemudian membaca ayat dalam Al Qur’an yang berbunyi:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS: Israa’: 44).
Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafadz jalalah (nama Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagaimana tampak dalam layar. Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula dimana ilmuwan tersebut berbicara.
 
Subhanallah, Maha Suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu Profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang dibawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah Al-Qur’an dan terjemahnya kepada sang profesor. Selang beberapa hari setelah itu, Profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnegie Mellon, ia mengatakan:
“Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini.”
“Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Al-Qur’an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain”
Profesor ini telah mengumumkan Islamnya dihadapan para hadirin yang sedang terperangah. Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya, dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah Islam.

BERWUDHU SEBELUM TIDUR, AKAN DIDO'AKAN MALAIKAT

BERWUDHU SEBELUM TIDUR, AKAN DIDO'AKAN MALAIKAT

Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- telah bersabda:

طَهِّرُوا هَذِهِ الأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللَّهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَبْدٌ يَبِيتُ طَاهِرًا إِلا بَاتَ مَلَكٌ فِي شِعَارِهِ لا يَنْقَلِب سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلا قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Sucikanlah jasad-jasad ini, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidaklah seorang hamba tidur malam dalam keadaan suci, melainkan BERMALAM PULA SEORANG MALAIKAT DI SISI PAKAIANNYA, ia tidaklah membolak-balikkan badannya sesaat di malam hari, melainkan malaikat itu mengatakan:

"Ya Allah, 'AMPUNILAH hamba-Mu (ini), karena ia tidur malam dalam keadaan SUCI".

(HR. Thabrani, dan dihasankan oleh Al-Hafizh Al-Haitsami dan Syaikh Albani rahimahumullah)

Semoga bermanfaat

Jangan Panggil 'Ukhti' Kepada Istri


Foto: flickr

Agil di awal membina rumah tangga dengan Aisha kerapkali memanggil istrinya dengan panggilan ‘ukhti’. Sebuah panggilan yang sering dipakai oleh para aktifis dakwah kepada muslimah yang juga aktifis dakwah. Maklum saja mereka berdua pernah mengalami fase itu.

“Ukhti, pagi ini cantik sekali. Sumringah wajahnya, sedang hamilkah?” kata Agil dengan nada bercanda.
Namun seiring berjalannya biduk, Agil baru mengetahui bahwa memanggil istri dengan panggilan itu tidak diperbolehkan oleh Islam.

Panggilan “dik” atau “ukhti” baru diketahui Agil setelah membaca kitab Ar-Raudhatul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni’ juz 3/195, terdapat penjelasan berikut (yang artinya), “Dan dibenci memanggil salah satu di antara pasutri dengan panggilan khusus yang ada hubungannya dengan mahram, seperti istri memanggil suaminya dengan panggilan ‘Abi’ (ayahku) dan suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku).”
Jadi, memanggil istri dengan “ukhti” (yang berarti “saudariku”) atau “dik” (yang maksudnya “adikku”) juga dibenci karena termasuk mahramnya, walaupun tidak berniat menyamakan dengan saudarinya. Keterangan ini dikuatkan pula di dalam kitab Al-Mughni juz 17/199, pasal “Dibenci bagi seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan orang yang termasuk mahramnya, seperti suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku), ‘Ukhti’ (saudariku), atau ‘Binti’ (putriku).”

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanadnya dari Abu Tamimah Al-Juhaimi, “Ada seorang laki-laki yang berkata kepada istrinya, ‘Wahai Ukhti!’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah istrimu itu saudarimu?’ Beliau membencinya dan melarangnya.” (HR. Abu Daud: 1889)
Akan tetapi, hadits ini dhaif (lemah) karena pada sanadnya ada rawi yang majhul (tidak disebut namanya). Dijelaskan pula di dalam Syarah Sunan Abu Daud, yaitu ‘Aunul Ma’bud: 5/93, bahwa haditsnya mudhtharrib (guncang) sehingga tidak bisa dijadikan dalil.

Dari keterangan di atas maka sebaiknya suami tidak memanggil istrinya dengan panggilan “Ummi” (yang berarti “wahai ibuku”) atau “Ukhti” (yang berarti “wahai saudariku”) walaupun belum mempunyai anak, tetapi boleh memanggil dia dengan namanya atau lebih utama dipanggi nama kunyahnya seperti “Ummu Muhammad”.
Demikian pula istri, sebaiknya tidak memanggil suaminya dengan panggilan “Abi” (yang berarti “ayahku”) atau “Akhi” (yang berarti “saudara laki-lakiku”), tetapi panggil nama aslinya dan lebih utama dipanggil dengan nama kunyah atau gelarnya seperti Abu Muhammad, baik dia mempunyai anak yang bernama Muhammad maupun tidak, karena memberi kunyah atau julukan adalah sunnah, seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil seorang anak perempuan kecil dengan panggilan “Ummu Khalid”. (HR. Bukhari: 18/141)

Adapun memanggil teman wanita, baik yang belum mempuyai anak maupun sudah dengan panggilan “Ummi:, maka hal ini tidak terlarang karena yang dipanggil adalah teman. Akan tetapi, yang lebih baik adalah memanggil dengan nama aslinya dan lebih utama juga memanggilnya dengan nama kunyahnya, seperti “Ummu Muhammad”, Wallahu a’lam.

INILAH SEDIKIT ISI KITAB TADZKIRAH ALIRAN AHMADIYAH

Inilah Wahyu Palsu Mirza Ghulam Ahmad

Kisah Cinta Nabi Mirza Ghulam Ahmad
di Dalam Tadzkirah
(Tadzkirah, hal. 162, cetakan 1956, Rabwah)
(dikutipkan oleh ust Abu Fatimah, Lc)

Inilah wahyu suci yang diklaim oleh Mirza Ghulam Ahmad.
فَأَوْحَى اللهُ إِلَيَّ أَنْ اخْطُبْ صَبِيَّتَهُ الْكَبِيْرَةَ لِنَفْسِكَ وَ قُلْ لَهُ لِيُصَاهِرْكَ أَوَّلًا ثُمَّ لْيَقْتَبِسْ مِنْ قَبَسِكَ وَ قُلْ إِنِّيْ أُمِرْتُ لِأَهْبَكَ مَا طَلَبْتَ مِنَ الْأَرْضِ وَ أَرْضًا أُخْرَى مَعَهَا وَ أُحْسِنَ إِلَيْكَ بِإِحْسَانَاتٍ أُخْرَى عَلَى أَنْ تُنْكِحَنِيْ إِحْدَى بَنَاتِكَ الَّتِيْ هِيَ كَبِيْرَتُهَا وَذَلِكَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ، فَإِنْ قَبِلْتَ فَسَتَجِدُنِيْ مِنَ الْمُتَقَبِّلِيْنَ، وَ إِنْ لَمْ تَقْبَلْ فَاعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَخْبَرَنِيْ أَنَّ إِنْكَاحَهَا رَجُلًا آخَرَ لَا يُبَارَكُ لَهَا وَلَا لَكَ فَإِنْ لَمْ تَزْدَجِرْ فَيُصَبُّ عَلَيْكَ مَصَائِبُ وَ آخَرُ الْمَصَائِبِ مَوْتُكَ فَتَمُوْتُ بَعْدَ النِّكَاحِ إِلَى ثَلَاثِ سِنِيْنَ بَلْ مَوْتُكَ قَرِيْبٌ وَ يَرِدُ عَلَيْكَ وَ أَنْتَ مِنَ الْغَافِلِيْنَ، وَكَذلِكَ يِمُوْتُ بَعْلُهَا الَّذِيْ يَصِيْرُ زَوْجُهَا إِلَى حَوْلَيْنِ وَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ قَضَاءً مِنَ اللهِ فَاصْنَعْ مَا أَنْتَ صَانِعُهُ وَ إِنِّيْ لَكَ لَمِنَ النَّاصِحِيْنَ.
“Allah telah mewahyukan kepadaku (Mirza Ghulam Ahmad), “Lamarlah olehmu anak gadis (Ahmad Baig) yang tertua untuk dirimu dan katakanlah kepadanya (Ahmad Baig), ‘Hendaknya dia menjadikanmu sebagai menantu untuk pertama kalinya dan hendaklah dia (Ahmad Baig) mengambil faedah/manfaat darimu. Dan katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan (oleh Allah) agar aku memberikan kepadamu apa yang engkau inginkan dari tanah dan tanah lainnya dan agar aku berbuat baik kepadamu dengan kebaikan yang lainnya (dengan syarat) agar engkau mau menikahkan aku dengan salah satu puterimu yang dia itu adalah puterimu yang tertua (anak pertama Ahmad Baig). Dan hal ini (adalah kesepakatan) antara aku denganmu. Apabila engkau (Ahmad Baig) mau menerima hal ini, maka engkau akan menemukan aku termasuk di antara orang-orang yang menerima (rela). Dan jika engkau tidak menerima (kesepakatan ini), maka ketahuilah sesungguhnya Allah telah memberitahuku bahwa (apabila) anak gadismu menikah dengan lelaki lain, maka Allah tidak akan memberikan keberkahan kepada anak gadismu dan juga dirimu. Kalau kamu (Ahmad Baig) tidak mengerti, (sekarang juga) kamu akan mendapat banyak musibah dan musibah yang terakhir adalah kematianmu. Kamu akan mati dalam tempo 3 tahun setelah pernikahan anak gadismu. Bahkan kematianmu sudah sangat dekat dan semakin mendekatimu padahal engkau dalam keadaan lalai. Demikian juga suami (suami anak gadismu) akan meninggal dunia dalam tempo 2 tahun 6 bulan, sebagai ketentuan dari Allah. Maka dari itu, kerjakanlah olehmu (semua keinginan aku ini) dan aku bagimu ini termasuk dari orang-orang yang memberikan nasihat.”

Adapun di dalam halaman 166 dinyatakan,
وَ أَخْبَرَنِيْ وَ قَالَ إِنَّنِيْ سَأَجْعَلُ بِنْتًا مِنْ بَنَاتِهِمْ آيَةً لَهُمْ فَسَمَّاهَا وَ قَالَ إِنَّهَا سَيُجْعَلُ ثَيِّبَةً وَيَمُوْتُ بَعْلُهَا وَ أَبُوْهَا إِلَى ثَلَاثِ سَنَةٍ مِنْ يَوْمِ النِّكَاحِ ثُمَّ نَرُدُّهَا إِلَيْكَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَ لَا يَكُوْنُ أَحَدُهُمَا مِنَ الْعَاصِمِيْنَ.
“Tuhan telah memberitahuku dan Dia berfirman, ”Sesungguhnya Aku akan menjadikan anak gadis di antara anak-anak gadis mereka itu sebagai tanda bagi mereka maka Dia pun menyebutkan namanya dan berfirman, ‘Sesungguhnya gadis tersebut (puteri Ahmad Baig) akan dijadikan (menjadi) seorang janda dan suaminya akan meninggal dunia begitu juga dengan bapaknya si gadis (Ahmad Baig) dalam tempo 3 tahun dari hari pernikahannya. Kemudian Kami akan mengembalikan gadis tersebut kepadamu (Mirza Ghulam Ahmad) sepeninggal suaminya dan salah satu dari keduanya tidak termasuk dari orang-orang yang mendapatkan perlindungan.”

Tapi sayang, karena wahyu ini adalah wahyu palsu, maka seluruh ramalannya pun tidak terbukti, kasihan deh kaum hai Mirza Ghulam Ahmad !!! Yang lebih kasihan lagi adalah orang-orang yang sudah tertipu dengan ajaran Ahmadiyah ini, hanya gara-gara diberi uang yang tidak seberapa. Coba bandingkan saja, berapa lama manusia akan hidup di dunia? Tapi coba bayangkan berapa lama manusia akan hidup di akhirat? Kekal!!! Kalau celaka di dunia, maka sudah jelas, di akhirat akan celaka juga!!! Naudzubillah min dzalik.

Mereka yang telah menjadi jemaat Ahmadiyah, sebenarnya sedang menukar kesenangan yang abadi di akhirat dengan harga yang murah (dunia ini). Apakah kalian tidak berfikir??? Mudah-mudahan, Allah SWT segera memberikan petunjuk-Nya kepada mereka yang telah tersesat. Kalau tetap ngotot juga bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi dan rasul Allah SWT, maukah kalian bermubahalah?

http://muslimina.blogspot.com/2013/11/inilah-wahyu-palsu-mirza-ghulam-ahmad.html

Tujuh Golongan Manusia yang Dimuliakan oleh Allah

Nabi Saw bersabda: Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada Masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: “Aku takut kepada Allah”, seseorang yang diberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya, (HR Bukhari).Tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan dari Allah yang pada hari itu tidak ada perlindungan kecuali hanya perlindungan Allah.
 
1. Imamun adil, pemimpin yang adil, hakim yang adil. Subhanallah, terdepan, yang pertama mendapat perlindungan Allah. Dan sungguh negeri Indonesia yang tercinta ini sangat merindukan pemimpin yang adil, hakim yang adil.

2. Manusia yang aktif, gesit, dalam ibadah kepada Allah SWT. Aktivitasnya mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

3. Manusia, hamba Allah, yang hatinya senang berada di dalam Masjid. Dia betah di masjid. Shalat berjama’ah, ia senang, subuh-subuh ia menegakkan shalat berjamaah. Allahu Akbar, tentu ini hamba Allah yang benar-benar beriman kepada Allah.

4. Manusia yang bersedakah yang tangan kanannya memberi tapi tangan kirinya tidak tahu. Subhanallah.. Apa ini? Orang yang ikhlash, tidak riya, tidak ujub.

5. Manusia yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah, berpisah karena Allah.

6. Manusia yang dirayu, digoda, oleh wanita cantik yang memiliki kekayaan, lalu ia berkata: “Aku takut kepada Allah”. Keinginan maksiatnya ada, tapi rasa takutnya kepada Allah lebih hebat, sehingga ia tidak mau melakukan kemaksiatan. Kita sangat merindukan pemuda, yang memiliki kualitas keimanan yang luar biasa, sehingga ia mampu menahan dari berbagai macam godaan.

7. Manusia atau hamba Allah, atau orang yang dalam ingatannya kepada Allah, dalam ibadahnya, dalam doanya, dalam dzikirnya, ia menangis. Allahu Akbar, menangis.. Dua tetesan yang dibanggakan Allah di hari kiamat, pertama tetesan darah fii sabilillah, kedua tetesan air mata karena menangis, takut azab Allah, karena merasa bersalah atas segala dosa yang ia lakukan kepada Allah, karena ia sangat mencintai Allah. 

Semoga Kita termasuk salah satu diantara 7 golongan. amiin...

Alasan Mengapa Hawa Tercipta Saat Adam Tidur

Alasan Mengapa Hawa Tercipta Saat Adam Tidur

Dalam berbagai riwayat diceritakan bahwa ketika Adam diciptakan oleh Allah dan ditempatkan di surga, dia merasa kesepian karena tidak ada kawan. Surga yang begitu luas hanya dia sendiri yang menghuninya. Karena itu Adam memohon kepada Allah agar diberikan seorang teman.

Ketika Adam sedang terlelap tidur, Allah mengambil 1 (satu) tulang rusuk Adam untuk menciptakan manusia lain sebagai teman bagi Adam. Hadirlah Hawa di samping Adam. Ada pertanyaan yang muncul kemudian. Mengapa Hawa yang tercipta dari tulung rusuk Adam ini diciptakan Allah ketika Adam tertidur?

Inilah alasannya. Seorang laki-laki jika dia kesakitan, maka dia akan membenci. Sebaliknya wanita, saat dia kesakitan, maka semakin bertambah sayang dan cintanya,, Seandainya Hawa diciptakan dari Adam saat Adam terjaga, pastilah Adam akan merasakan sakit keluarnya Hawa dari sulbinya, hingga dia membenci Hawa. Akan tetapi Hawa diciptakan dari Adam saat dia tertidur, agar Adam tidak merasakan sakit dan tidak membenci Hawa.

Berbeda dengan seorang wanita. Wanita akan melahirkan dalam keadaan terjaga, melihat kematian dihadapannya karena proses melahirkan itu, namun dia akan semakin sayang dan cinta kepada anak yang dilahirkan bahkan ia rela menebusnya dengan kehidupannya.

Sesungguhnya Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk yang bengkok yang tugasnya adalah melindungi Qalbu (jantung, hati nurani). Oleh karena itu, tugas Hawa adalah menjaga qalbu. Kemudian Allah menjadikan nya bengkok untuk melindungi qalbu dari sisi yang kedua. Sementara Adam diciptakan dari tanah, dia akan menjadi petani, tukang batu, tukang besi, dan tukang kayu. Wanita selalu berinteraksi dengan perasaaan, dengan hati, dan wanita akan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang, seorang saudari yang penyayang, seorang putri yang manja, dan seorang istri yang penurut.

Dan wajib bagi Adam untuk tidak berusaha meluruskan tulang yang bengkok tersebut dengan paksa, seperti yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW, â??jika seorang lelaki meluruskan yang bengkok tersebut dengan serta merta, maka dia akan mematahkannya.â?? Maksud nya adalah dengan kebengkokan tersebut adalah perasaan yang ada pada diri seorang wanita yang mengalahkan perasaan seorang laki-laki.

Karena itu wahai kaum Adamâ?¦ janganlah merendahkan perasaan Hawa, dia memang diciptakan seperti itu. Apabila seseorang wanita mengatakan dia sedang bersedih, tetapi dia tidak menitikkan airmata, itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya. Apabila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya, lebih baik beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu meminta maaf. Dan wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci pada orang yang paling dia sayang .

Coba Dicek, Pemimpin Anda Raja atau Khalifah?

Ibnu Saad meriwayatkan bahwa Sufyan bin Abi Auja berkata bahwa suatu kali Umar Ra berkata, ” Demi Allah, Aku tidak tahu apakah aku ini khalifah atau Raja? Seandainya aku seorang raja, maka itu merupakan sesuatu yang hebat!”

Lalu seseorang berkata,”Wahai Amirul Mukminin, ada perbedaan antara khalifah dan raja. Khalifah hanya mengambil berdasarkan yang hak dan meletakkannya pada yang hak. Alhamdulillah, engkau demikianlah adanya. Sementara raja bertindak semena mena terhadap orang orang, merampas harta dari si fulan dan menyerahkan ke si fulan lainnya semaunya,” setelah mendengar itu Umar terdiam.

Umar Ra bertanya kepada Salman Ra, ” Apakah aku ini seorang raja atau khalifah?”

Salman menjawab,” Jika engkau memungut pajak dari hasil bumi kaum muslimin senilai satu dirham saja atau kurang dari itu atau lebih, kemudian engkau peruntukkan pada yang bukan haknya, maka engkau adalah seorang raja, dan bukan khalifah.
…..
Rasulullah SAW telah meletakkan kepada manusia, sesuai perintah Allah SWT, mengenai syariat dalam perkara harta benda, mustahil ditemui lebih adil dari sistem Islam. Dengan berdasarkan kepada syariat Islam, maka harta benda seseorang tidak akan dipungut Negara kecuali dengan jalan yang adil, dan seseorang pun akan memiliki sesuatu harta benda dengan cara yang hak dan adil pula.

Sebelum muncul syariat ini, didunia tidak pernah muncul satu teori pun yang adil dan relevan untuk mengatur perkara hak milik ini, tidak satupun dijumpai teori hukum yang adil pula mengenai perpajakan.

Ketahuilah moto para pemerintah sebelum Islam (Jahiliyah) adalah Pajak, sementara moto pemerintahan Islam adalah Hidayah berupa optimalisasi zakat.

Dr Alfred J Butler menulis tentang pemerintahan Romawi di Mesir, ” Pemerintahan Romawi di Mesir tidak punya sasaran lain kecuali merampas harta benda milik rakyat untuk disajikan kepada penguasa sebagai harta rampasan. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk menjadikan pemerintahan sebagai sarana mewujudkan kemakmuran rakyat, meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, mendidik SDM nya atau memperbaiki urusan sumber sumber rezeki mereka. Corak pemerintahan orang orang asing yang hanya mengandalkan kekerasan dan tidak pernah mengenal rasa belas kasihan kepada rakyat yang dipimpinnya.”

Beliau juga menulis tentang kondisi Persia selama dibawah dinasti Sassania, Para pemungut pajak itu tidak jauh dari tipu daya dan merampas harta benda rakyat dalam menaksir pajak pajak yang harus ditunaikan. Apa yang pernah dilakukan Kisra Anussyirwan dalam merenovasi sistem keuangan pada zamannya, lebih menguntungkan kepentingan keuangan istana daripada kepentingan rakyatnya. Rakyat jelata masih terus hidup dalam kebodohan dan kemelaratan seperti sebelumnya. Terlebih lagi kaum petani yang mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang kelewat batas. Para petani tidak diizinkan pindah dari ladang ladang kaum bangsawan, dipekerjakan dengan kecil, serta dibebani semua pekerjaan berat.

Begitulah bila pajak diberlakukan untuk kaum Muslimin, sebagai salah satu indikasi dan memperjelas bahwa siapakah pemimpin itu adalah berperan sebagai Khalifah Allah atau hanyalah seorang raja, seperti raja raja yang telah berlalu tanpa memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. —- Said Hawwa, Ar Rasul

http://www.eramuslim.com/nasehat-ulama/coba-dicek-pemimpin-anda-raja-atau-khalifah.htm#.UfqZGqykXPI

mengambil Hikmah Dari Para Sahabat rasul!!

"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya
memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti
memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,

“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,

”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.

‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.

‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.

Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.

Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.

“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.

Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.

Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.

Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.

“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.

Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.

Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.

Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.

Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.

Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”

bersambung

20 Ulama Yang Belum Menikah Sampai Wafatnya

RASULULLAH shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Artinya: “Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!” Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa?”Jawab para shahabat: “Ya, benar”. Beliau bersabda lagi: “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!”. [Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa'i dengan sanad yang Shahih].

Itulah cara Islam menjaga harkat dan martabat manusia agar tak menjadi hina.Namun, ternyata di kalangan ulama zaman dulu, ada beberapa ulama yang belum sempat menikah seumur hidupnya. Mungkin mereka para ulama itu adalah pengecualian yang Allah ciptakan dari manusia lain. Terkadang ada manusia yang punya kelebihan dibanding manusia lain, jadi tidak mustahil semangat keilmuan mereka yang sangat tinggi menyebabkan hajat batin mereka seolah tiarap. Wallahu a’lam.  

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ( 661-728 H )
- Nama lengkap beliau adalah: ”Taqiyyuddin abul ‘abbas ahmad bin syihabuddin abdul halim bin abdus salam bin abil qosim ibnu taimiyyah”.
- Beliau wafat dalam usia 67 tahun.
- Beliau adalah: Syaikhul Islam, Al-Mufassir Al-Bari’, Al-muhaddits, Al-Faqih, Al-Hafizh An-Naqid, Al-’Allamah,An-nahwi,
Al-Adib,Al-Lughowi,Az-Zahid dan Al-Mutafannin.
- Beliau berasal dari syiria.
- Kunyahnya: Ibnu Taimiyyah & Abul ‘Abbas.
- Laqobnya: Syaikhul Islam & Taqiyyuddin.

2. Imam Thobari ( 224-310 H )
- Nama lengkap beliau adalah:”Abu ja’far muhammad bin jarir bin yazid bin kholid ath-thobari ”.
- Beliau wafat dalam usia 86 tahun.
- Beliau adalah:Al-Mufassir,Al-Muhaddits,Al-Faqih,Al-Ushuli,An-Nuzhor,Al-Muqri,Al- Muarrikh, Al-Hujjah, Al-Lughowi, An-Nahwi, Al-’Arudhi, Al-Adib, Arrowiyah, As-Syair, Al-Muhaqqiq Al-Mudaqqiq, AL-Imam Al-Mujtahid Al-Mutlaq dan Al-Mutafannin.
-Beliau berasal dari Thobaristan.
-Kunyahnya: Abu ja’far.

3. Imam Nawawi ( 631-676 H )
-Nama lengkap beliau adalah :” Abu zakaria muhyiddin yahya bin syarof an-nawawi ”.
-Beliau wafat dalam usia 45 tahun.
-Beliau adalah: Al-Faqih Mujtahid Mutlaq (satu taraf di bawah Mujtahid Mustaqill/ Imam Madzhab) dan Al-Muhaddits ( satu taraf di atas al Musnid dan al hafizh).
-Beliau berasal dari Syiria.
-Kunyahnya: Abu zakaria.

Nama lengkapnya Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi al-Hizami al-Haurani asy-Syafi’i. beliau menghafal kitab at-Tanbih dalam waktu empat setengah bulan. Dalam tahun yang sama beliau berhasil membaca dan menghafal seperempat kitab al-Muhadzdzab.
Beliau tidak pernah memakan buah-buahan. Beliau berkata, “Aku tidak mau memanjaan tubuhku, karena hal itu akan menyebabkan kantuk selalu datang.” Dalam satu hari satu malam, beliau hanya makan dan minum sekali saja ketika sahur.
Karya beliau:
1. Syarh shahih muslim
2. Riyadhus shalihin
3. al-Adzkar
4. al-Arba’in
5. al-Irsyad fie Ulum al-Hadits
6. al-Mubhamaat
7. Tahrir al-Alfadz li at-Tanbih
8. al-Umdah fie Tashhih at-Tanbih
9. al-Idhah fi Manasik
10. at-Tibyan fie Adabi Hamlati al-Qur’an
11. Fatawa
12. ar-Raudhah
13. al-Majmu’

4. Imam Az-Zamakhsyari ( 467- 538 H )
-Nama lengkap beliau adalah: ”Abu Al-qosim mahmud bin umar Az-Zamakhsyari Al-Khuwarozmiy ”.
-Beliau wafat dalam usia 71 tahun.
-Beliau adalah :” Al-Lughowi,Al-Adib,An-Nahwi dan Al-Mufassir.
-Beliau berasal dari Al-Khuwarozmi.
-Kunyahnya: Abu Al-Qosim.
-Laqobnya: Jarollah.

5. Imam Abdullah bin Najih Al-Makkiy ( w 131 H )
- Nama lengkap beliau adalah:” Abu yasar abdullah bin abi najih al-makkiy ”.
- Beliau adalah: Al-Mufassir dan Al-Muhaddits.
- Beliau seorang tabi’i – tabi’in.
- Wafat tahun 131 H.
- Beliau berasal dari mekkah(saudi arabia).
- Kunyahnya: Abu Yasar.

6. Imam Yunus bin Habib Al-Bashriy ( 90 – 182 H )
- Nama lengkap beliau: ”Abu abdurrahman yunus bin habib Al-bashriy”.
- Beliau wafat dalam usia 92 tahun.
- Beliau adalah: An-Nahwi dan Al-Adib.
- Beliau berasal dari Bashroh(irak).
- Kunyahnya :Abu Abdurrahman.

7. Imam Husein bin Ali Al-Ju’fiy Al-Kufiy ( 119- 203 H )
- Nama lengkap beliau: ” Abu ali husein bin ali al-ju’fiy al-kufiy ”.
- Beliau wafat dalam usia 84 tahun.
- Beliau adalah : Al-Hafizh ,Al-Muhaddits, Al-Muqri,Az-Zahid ,Al-Qudwah.
- Beliau berasal dari Kuffah ( irak ).
- Kunyahnya: Abu Ali.

“Mitos Santa Claus dan Pelestarian Penjajahan”

JAN BREMMER, dalam buku Interpretations of Greek Mythology, (London: Routledge, 1988), mencatat, bahwa meskipun masyarakat Barat sudah tersekulerkan dan membuang hal-hal yang supranatural, namun mereka tetap memelihara cerita-cerita tertentu sebagai model perilaku dan ekspresi ideal negara. Meskipun berbeda, Masyarakat Barat memiliki banyak kesamaan dengan masyarakat Yunani. Sebagaimana masyarakat Yunani, mitos-mitos juga banyak menarik bagi masyarakat Barat. (Western secularised societies have nearly abolished the supernatural, but they usually still have their favorite (historical) tales that serve as models of behavior or are the expression of the country’s ideals. It is their relevance to Greek society that makes the mythoi still fascinating today, for however different the Greeks were from us, they were also very much the same).
Apakah yang dimaksud dengan Greek Mythology? David Bellingham, dalam buku An Introduction to Greek Mythology, (London: Quintet Publishing Ltd, 1989), membuat dekripsi sederhana tentang hal ini. Kata mitos (myth) berasal dari kata Yunani kuno “muthos” yang asalnya berarti “ucapan”, dan kemudian berarti “cerita oral atau tertulis”. Sedangkan “Legenda” (legend) biasanya terkait dengan peristiwa nyata, tetapi mengandung unsur-unsur yang terkait dengan mitos.  Salah satu legenda terkenal dalam tradisi Yunani adalah cerita tentang Perang Troya yang menceritakan kepahlawanan Achiles dan Agamemnon.

Pengaruh mitos-mitos Yunani terhadap masyarakat Barat dapat dilihat dari banyaknya istilah atau nama-nama yang diambil dari nama-nama dewa dalam mitologi Yunani, seperti Titans, Eros, Aether, Uranus, Electra, Hera, Apollo, Mars, Hermes. Apollo, yang dijadikan nama pesawat pertama Amerika Serikat ke bulan, adalah dipuja sebagai dewa rasional, dan diasosiasikan dengan budaya dan musik. Ia digambarkan sebagai pria tampan yang memiliki banyak affair dengan laki-laki maupun wanita. Menurut mitologi Yunani, Dewa Apollo dilahirkan di pulau Delos, yang hingga kini masih disucikan. Dalam perjalanannya ke Delphi, ia membunuh seekor ular besar yang disebut dengan ‘Python’. Hingga kini, di Delphi masih terdapat sisa-sisa kuil yang disebut sebagai kuil Dewa Apollo.
Hermes, anak Zeus, juga digambarkan memiliki banyak affair, seperti Apollo. Ia pun dikenal sebagai Dewa para pencuri. Ketika ia tumbuh besar, Zeus menjadikannya sebagai utusan para dewa. Hanya Hermes yang memiliki izin bebas lewat antara Gunung Olympus, dunia, dan ‘underworld’. Dari nama Hermes kemudian diambil istilah ‘hermeneutika’. Cerita-cerita dalam mitologi Yunani memang dipenuhi dengan unsur seksual dan perselingkuhan, baik diantara para dewa maupun antara dewa dengan manusia.

Mitos-mitos itu hidup di tengah masyarakat Yunani, meskipun sebagian mereka juga mengembangkan pemikiran tentang filsafat dan ilmu pengetahuan alam. Di masa modern, Barat pun mengembangkan mitos-mitos yang mirip dengan mitologi Yunani. Cerita tentang Superman dan Wonderwoman, misalnya, mirip  dengan cerita dalam mitologi Yunani. Wonderwomen yang diperkenalkan oleh Charles Moulton, identik dengan cerita Diana dalam mitologi Yunani. Superman, yang tidak dapat dilemahkan kecuali dengan Kryptonite Hijau, mirip dengan kehebatan Achilles yang tidak dapat dilukai kecuali pada tumitnya.

Bisa dibandingkan, bagaimana  produktifnya masyarakat Yunani dalam memproduksi mitos-mitos dengan masyarakat Barat dalam memproduksi berbagai mitos. Bisa disimak, bagaimana pesat dan berpengaruhnya industri film di Barat, yang pekerjaannya juga banyak memproduksi mitos-mitos dan legenda, yang ternyata begitu disukai masyarakat Barat. Film-film yang menjual mitos dan legenda,   semisal Ghost, Rambo, Robin Hood, Batman, Superman, Spiderman, dan sebagainya. Film Troy yang bercerita tentang legenda kepahlawanan Achiles dan Agammemnon, di masa Yunani kuno, laris manis diserbu penonton di gedung-gedung bioskop Kuala Lumpur. Penonton harus rela antri untuk dapat menikmati film yang dibintangi oleh Brad Pitt, Orlando Bloom, dan Eric Bana ini. Film Spiderman 2, juga bukan main hebatnya dalam menyerap penonton. Sampai-sampai penonton dilarang membawa handphone saat masuk ke dalam gedung bioskop.
Sementara, sampai 23 Juli 2004, film Spiderman 2 telah maraup keuntungan 15 juta USD (sekitar Rp 140 milyar), masih dibawah perolehan film legenda “Catwoman” yang maraup 16,7 juta USD. Film King Arthur, yang baru diedar bebarapa saat, sampai 23 Juli 2004, sudah maraup keuntungan 3,04 juta USD. Film The Passion of The Christ yang begitu kontroversial, berhasil meraup keuntungan 19,2 juta USD, sampai bulan Februari 2004. Film ini, meskipun didasarkan pada cerita Perjanjian Baru, tetapi juga dibumbui dengan berbagai cerita yang sulit diverifikasi kebenarannya. Film trilogi “The Lord of the Rings”, mampu maraup keuntungan lebih dari 2000 juta USD.

Santa Claus
Dalam tradisi masyarakat Barat, misalnya, juga sangat terkenal legenda dan mitos tentang Santa Claus dan Suartepit, dalam kaitan dengan Perayaan Natal atau kelahiran Jesus (Natus, natalis, dalam bahasa Latin berarti “kelahiran”).    Cerita ini sama sekali tidak ada kaitan dengan agama Kristen. Tetapi, toh, tetap mendominasi suasana Natal di Barat dan berbagai penjuru dunia lainnya. Setiap menjelang dan selama Natal, hotel-hotel, mal-mal memasang patung dan gambar Santa Claus, yang biasanya digambarkan dengan pakaian merah dan topi merah berjambul. Bahkan, tidak jarang, ramai orang ikut-ikutan berpakaian ala Santa Claus.

Cerita tentang Santa Claus sendiri sebenarnya tidak jelas benar. Konon, ia berasal dari seorang bernama Nicholas, dilahirkan di kota Lycia,  pelabuhan kuno di Patara (Asia Kecil). Nicholas digambarkan sebagai uskup yang ramah, suka menolong anak dan orang miskin. Namun, legenda Santo Nicholas juga bercampur dengan legenda lain tentang ‘pemberi hadiah’ dari kalangan kaum pagan yang memiliki kekuatan sihir yang menghukum anak-anak nakal dan memberi hadiah kepada anak-anak yang baik. Dia biasa menaiki kereta terbang yang ditarik rusa kutub. Namun, ada juga legenda tentang Sinterklaas yang menggambarkan orang tua berjanggut putih panjang berpakaian uskup menaiki kuda yang bisa terbang ke atap rumah, dibantu budaknya Swarte Piet.

Sinterklaas datang tanggal 5 Desember malam, ke rumah-rumah untuk memberi hadiah bagi anak-anak yang baik melalui cerobong asap. Gambaran Sinter Klaas, yang berkulit putih dan pemurah kepada anak-anak, bisa dijadikan sebagai bahan propaganda tentang kebaikan orang kulit putih. Sebaliknya, budak hitam Swarte Piet, pembantunya, budak berkulit hitam, digambarkan bersifat kejam, dan suka mencambuk anak-anak nakal. Karena sejarah kehidupan Nicholas tidak jelas, Paus Paulus VI menanggalkan perayaan Santo Nicholas dari kalender resmi gereja Roma Katolik pada tahun 1969.  Ada juga Santa Claus versi Amerika, yang berasal dari Kutub Utara. Santa Claus di AS adalah ciptaan dari Public Relation Manager untuk mempromosikan produk minuman tertentu. Karena orang Amerika tidak mau disebut rasis, maka Santa Claus di AS tidak ditemani oleh pembantunya yang berkulit hitam.

Banyak kalangan Kristen yang prihatin dengan kondisi Perayaan Natal yang lebih menonjolkan legenda dan mitos tentang Santa Claus, ketimbang sosok Jesus. Dalam situs Kristen (http://www.yabina.org/TanyaJawab/11/des_11.htm) ada pembaca yang bertanya, “Kalau kita sudah tahu perayaan Natal itu banyak legenda/mitosnya apakah tidak sebaiknya kita meniadakan perayaan Natal itu?”. Dijawab, “Benar harus diakui bahwa perayaan natal sudah banyak diisi legenda/mitos yang tidak ada hubungannya dengan Injil, apalagi perayaan natal sudah menjadi bisnis besar dan dikomersialisasikan oleh dunia sekuler sebagai saat belanja diakhir tahun, namun sekalipun banyak legenda/mitos yang dimasukkan dalam rangkaian perayaan natal tentu yang harus kita demitologisasikan adalah bungkus legenda/mitos itu dan bukan perayaan Natal itu sendiri yang sudah ada sebelum masuknya legenda/mitos Santa Claus itu. Soalnya perayaan Natal yang bersumber peristiwa di Bethlehem itu sudah dikenang pada hari Epifani tanggal 6 Januari dalam gereja yang kemudian ditahun 325 dipindah ke tanggal 25 Desember untuk menggantikan Hari Dewa Matahari. Natal bukan Hari Matahari karena sejak awal dalam perayaan Natal tidak ada unsur penyembahan Dewa Matahari itu, apalagi tidak ada perayaan minggu Saturnalia seperti yang dilakukan orang Romawi dulu ke dalam rangkaian perayaan Natal.”

Memang, sejatinya, bukan hanya figur Santa Claus dan Suartepit yang bersifat mitos. Perayaan Natal pada 25 Desember pun sarat dengan mitos-mitos dan pengaruh paganisme, sehingga terus memunculkan perdebatan panjang di kalangan kaum Kristen. Remi Silado, seorang budayawan Kristen, menulis sebuah kolom di majalah Gatra, (27 Desember 2003). Judulnya “Gatal di Natal”.
Ia menulis antara lain:

(1) “Sebab, memang tradisi pesta ceria Natal, yang sekarang gandrung dinyanyikan bahasa kereseh-reseh Inggris, belum lagi terlembaga. Sapaan Natal, “Merry Christmas” –dari bahasa Inggris Lama, Christes Maesse, artinya “misa Kristus”– baru terlembaga pada abad ke-16, dan perayaannya bukan pada 25 Desember, melainkan 6 Januari.”

(2) “Dengan gambaran ini, keramaian Natal sebagai perhitungan tahun Masehi memang berkaitan dengan leluri Barat, istiadat kafir, atau tradisi pagan, yang tidak berhubungan dengan Yesus sendiri sebagai sosok historis-antropologis bangsa Semit, lahir dari garis Ibrahim dan Daud, yang merupakan bangsa tangan pertama yang mengenal monoteisme absolut lewat Yehwah.”

(3) Saking gempitanya pesta Natal itu, sebagaimana yang tampak saat ini, karuan nilai-nilai rohaninya tergeser dan kemudian yang menonjol adalah kecenderungan-kecenderungan duniawinya semata: antara lain di Manado orang mengatakan “makang riki puru polote en minung riki mabo” (makan sampai pecah perut dan minum sampai mabuk).

(4) “Demikianlah, soal Natal sekali lagi merupakan gambaran pengaruh Barat, dan persisnya Barat yang kafir, yang dirayakan dengan keliru.” tajam terhadap budaya Natal dari kalangan Kristen itu sebenarnya sudah banyak dilakukan. Seorang pendeta bernama Budi Asali M.Div., menulis artikel panjang tentang Natal berjudul Pro-Kontra Perayaan Natal, dan disebarluaskan melalui jaringan internet. Pendeta ini membuka tulisannya dengan ungkapan: “Akhir-akhir ini makin banyak orang-orang kristen yang menentang perayaan Natal, dan mereka menentang dengan cara yang sangat fanatik dan keras, dan menyerang orang-orang kristen yang merayakan Natal. Kalau ini dibiarkan, maka Natal bisa berkurang kesemarakannya, dan menurut saya itu akan sangat merugikan kekristenan. Karena itu mari kita membahas persoalan ini, supaya bisa memberi jawaban kepada orang-orang yang anti Natal.”

Jelas, banyak kalangan Kristen yang “anti-Natal”, meskipun mereka tenggelam oleh gegap gempita peringatan Natal, yang begitu gemerlap. Di Malaysia, 27 Desember 2003, ada perayaan Natal Bersama di Lapangan Olahraga Kinabalu, Sabah, yang dihadiri ratusan ribu orang. Selain ada pawai lampion, nyanyi-nyanyi lagu-lagu Natal, ada juga acara peragaan busana batik, yang dilakukan oleh beberapa peserta lomba ratu kecantikan dari berbagai negara. Acara ini disiarkan langsung oleh TV1 Malaysia. Seperti halnya di berbagai belahan dunia lainnya, sosok Santaklaus sudah jauh lebih popular daripada sosok Jesus. Pohon cemara yang sulit dicari di Palestina, sudah menjadi simbol Natal.

Sebenarnya, jika ditelusuri, kisah Natal itu sendiri sangat menarik. Bagaimana satu tradisi kafir (pagan) di wilayah Romawi kemudian diadopsi menjadi tradisi keagamaan Kristen. Banyak literatur menyebutkan, bahwa tanggal 25 Desember memang merupakan hari peringatan Dewa Matahari yang di Romawi dikenal sebagai Sol Invictus. Setelah Constantine mengeluarkan the Edict of Milan, pada 313 M, maka ia kemudian mengeluarkan sejumlah peraturan keagamaan yang mengadopsi tradisi pagan. Pada 321, ia memerintahkan pengadilan libur pada hari “Hari Matahari” (sun-day), yang dikatakan sebagai “hari mulia bagi matahari”. Sebelumnya, kaum Kristen – sama dengan Yahudi – menjadikan hari Sabbath sebagai hari suci. Maka, sesuai peraturan Konstantine, hari suci itu diubah, menjadi Sunday. Sampai abad ke-4 M, kelahiran Jesus diperingati pada 6 Januari, yang hingga kini masih dipegang oleh kalangan Kristen Ortodoks tertentu. Namun, kemudian, peringatan Hari Kelahiran Jesus diubah menjadi 25 Desember.

Ada sebagian kalangan Kristen yang berargumen, bahwa tanggal 25 Desember itu diambil supaya perayaan Natal dapat menyaingi perayaan kafir tersebut.
Tetapi, apa yang terjadi sekarang, tampaknya seperti yang dikatakan oleh Remi Silado, bahwa perayaan Natal sudah didominasi oleh tradisi perayaan kaum kafir. Maka, muncullah, di kalangan Kristen, gerakan untuk menentang perayaan Natal pada 25 Desember. Apalagi ada yang kemudian melihat, penciptaan tokoh Sinterklass, sebenarnya merupakan bagian dari rekayasa Barat untuk melanggengkan hegemoni imperialistiknya, yakni ingin menciptakan image, bahwa Barat adalah dermawan, baik hati, suka bagi-bagi hadiah, seperti Sinterklas itu. Begitulah bagian dari tradisi Kristen Barat.

Mencermati perilaku masyarakat Barat itu tampaknya pernyataan Jan Bremmer perlu digarisbawahi: It is their relevance to Greek society that makes the mythoi still fascinating today, for however different the Greeks were from us, they were also very much the same”. 

Bagaimana sikap Muslim?
Dalam al-Quran surat Maryam disebutkan bahwa: “Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah itu mempunyai anak. Sesungguhnya (kalian yang menuduh Allah punya anak itu) telah melakukan perbuatan yang sangat mungkar (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah itu mempunyai anak.” (QS 19:88-91).

Dalam buku Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, (hlm. 36-37), ditulis apa yang disebut ”Syahadat Nicea”:  “Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu menjadi ada…”

Sedangkan dalam buku “Tanya Jawab Syahadat Iman Katolik disebutan juga teks ”syahadat Katolik”: “Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta hal-hal yang kelihatan dan tak kelihatan, Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Sang Sabda dari Allah, Terang dari Terang, Hidup dari Hidup, Putra Allah yang Tunggal Yang pertama lahir dari semua ciptaan, Dilahirkan dari Bapa, Sebelum segala abad … “ (Alex I. Suwandi PR, Tanya Jawab Syahadat Iman Katolik, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 9-10). (Medan, 13 Desember 2014, kisah tentang Mitologi Barat dikutip dari Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, (Jakarta: GIP, 2005).*

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com


Peran Kita untuk Saudara Sesama Muslim yang Tertindas

Bismillahirrahmaanirrahiim …

Alhamdulillah, telah kita jalani minggu kedua Ramadhan 1433 Hijiriah kali ini. Kita yang berpuasa di Korea InsyaAllah kita dapat menjalaninya tanpa hambatan berarti. Setidaknya, ketika kita bandingkan kondisi kita di Korea dengan saudara-saudara kita yang terdzalimi, tertindas di Suriah, Kashmir, Myanmar, Palestina dan di negeri manapun yang bisa jadi tak terliput oleh media.

Lantas bagaimana akhlak kita sebagai sesama muslim untuk saudara-saudara kita dalam kondisi terdzalimi?

Berpegang teguhlah kepada agama Allah dan tetaplah bersatu. Janganlah berbuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan. Renungkanlah karunia Allah yang diturunkan kepada kalian pada masa jahiliah, ketika kalian masih saling bermusuhan. Saat itu Allah menyatukan hati kalian melalui Islam, sehingga kalian menjadi saling mencintai. Saat itu kalian berada di jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dengan Islam. Dengan penjelasan yang baik seperti itulah, Allah selalu menerangkan berbagai jalan kebaikan untuk kalian tempuh. (QS 3:103)

Dan,

Orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, saling mencintai dan menolong satu sama lain. Dengan dasar keimanan, mereka menyuruh untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh agama mereka yang benar, melarang apa yang dilarang oleh agama, mengerjakan salat pada waktunya, membayar zakat untuk orang yang berhak menerima pada waktunya, mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Merekalah yang akan selalu berada dalam rahmat Allah. Allah sungguh Mahakuasa untuk mengayomi mereka dengan kasih sayang-Nya, dan Mahabijaksana dalam pemberian-Nya. (QS 9:71)

Perintah di atas mengajarkan kita bahwa setiap saat dan terlebih saat krisis, adalah tugas seorang muslim untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain. Rasulullah saw mengajarkan ummat Islam untuk bersatu seolah-olah kita satu tubuh: jika satu bagian dalam tubuh kita merasakan sakit, bagian lainnya juga merasakn sakit. Ketika ada semangat untuk saling menolong, akan timbul persatuan, rasa aman dan kuat. Persatuan ini merupakan karunia saat masa-masa awal Islam berdiri saat menghadapi berbagai ancaman, sehingga dengan adanya persatuan ini, kaum muslim bisa menghadapi para musuh dengan yakin bisa mengakhiri ketidakadilan dan penindasan atas ummat.

Kondisi sulit yang saat ini dihadapi oleh Ummat Islam dunia merupakan akibat dari kurangnya perhatian kita atas petunjuk yang telah diberikan oleh Al Quran dan Sunnah. Sebagai akibatnya, sebagian muslim kurang  peduli jika umat islam di belahan bumi lainnya tertindas.

“Bagaimana kalian sampai hati untuk tidak berperang di jalan Allah, sedangkan orang tua laki-laki, wanita dan anak-anak yang lemah selalu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari kekuasaan orang-orang yang zalim. Tempatkanlah kami berada di dalam kekuasaan orang-orang yang beriman dengan kekuasaan dan rahmat-Mu. Berikanlah kami penolong dari sisi-Mu yang akan menolong kami.” (QS 4:75)

Ayat di atas merupakan perintah langsung dari Allah AWT untuk membantu pembebasan umat islam yang tertindas oleh tirani.

Adapun dalam kondisi saat ini, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:
Menggunakan peran politik untuk membantu saudara-saudara kita yang tertindas, misalnya mendorong pemerintah untuk ikut aktif memberikan diplomasi politik. Salah satu bentuk protes atas penindasan adalah pengusiran diplomat, seperti yang dilakukan oleh Inggris, Perancis, Australia, Kanada, Jerman, Italia dan Spanyol sebagai reaksi atas Pembantaian Houla di Syria.
Penggalangan dana untuk membatu saudara-saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Di Indonesia, ada beberapa badan untuk menjembatani donasi ini. Untuk Rohingya misalnya, ada program dari Aksi Cepat Tanggap. Untuk Palestina, ada program donasi Palestina melalui  Sahabat Al-Aqsha. Saudara-saudara kita di Saudi, dalam 3 hari, mereka bisa mengumpulkan Rp 343 Miliar untuk krisis Suriah. Saat  di bulan Ramadhan, berbuat kebaikan termasuk sedekah sangatlah utama.
Menggunakan media untuk menambah awareness dunia atas penindasan yang terjadi, baik dalam bentuk pembantaian, perusakan tempat tinggal warga sipil, dan perampasan hak-hak dasar.
Membantu dengan doa kepada Allah SWT, dan paling tidak, inilah sekecil-kecilnya bantuan yang bisa yang bisa kita lakukan.

Wallahu a’lam.

janganlah sombong kawan!!!

Kesombongan merupakan sesuatu yang dibenci Allah Swt, orang kaya yang sombong dengan sebab kekayaannya saja Allah benci, apalagi kalau orang miskin menyombongkan diri dalam soal harta sehingga dia menampakkan dirinya seperti orang kaya dengan penuh kesombongan.

Kebencian Allah kepada orang kaya yang sombong itu dikemukakan dalam firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri” (QS 28:76).

Maka dengan sebab kesombongan Karun yang kaya itulah, Allah Swt betul-betul mengazabnya di dunia ini sebagaimana firman-Nya yang artinya: Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Kalau Karun yang kaya raya tapi sombong dibenci dan diazab Allah Swt, apalagi orang miskin yang amat tidak pantas menyombongkan diri, maka bila ada orang miskin sombong, bisa jadi Allah lebih murka lagi. Tegasnya, tak ada tempat di sisi Allah buat siapapun yang menyombongkan diri, Allah berfirman yang artinya: Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong (QS 16:23).

Meskipun demikian, orang yang miskin bukan berarti harus minder, tapi dia juga harus tawadhu atau rendah hati. Miskin dan kaya bukanlah ukuran ketaqwaan kepada Allah, namun keduanya bisa membawa manusia pada ketaqwaan tapi juga bisa membawa manusia pada kemurkaan.

Kemiskinan ini juga tidak berarti diwujudkan dalam hal materi, namun juga berlaku untuk ilmu agama. Bayangkan jika ada orang yang tidak tahu mengenai ilmu agama, atau tahu ilmu agama walaupun sedikit, dia sudah sombong, dengan bangganya merasa pintar dalam hal agama, bahkan sama sekali tidak tercermin dalam kehidupannya, bahwa dia orang yang tahu ilmu agama.

Banyak sekali terjadi dilingkungan sekitar kita, sudah punya titel HAJI, atau HAJJAH, namun masih saja membuka auratnya, masih suka memfitnah orang, masih suka iri dan sombong dengan orang sekitarnya, merasa sudah HAJI atau HAJJAH, maka ketika ada acara besar Keagamaan, maka dia merasa yang lebih berhak untuk menjadi tokoh utama didalam acara tersebut. Sudah melaksanakan rukun Islam yang kelima pun, masih saja tidak bisa membedakan harta Haram atau Halal, mulutnya tak pernah dijaga untuk mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat daripada kata-kata yang menyakiti hati.

Allah tidak menilai dari pangkat, titel, golongan atau apapun itu, yang Allah nilai hanyalah kejernihan hati kita, untuk selalu MEMPERBAIKI DIRI (INTROSPEKSI DIRI) bukan merasa paling didzolimi, namun berkaca dengan diri sendiri akan perbuatan yang telah kita lakukan selama ini, apakah sudah baik atau belum, ataukah ini balasan dari perbuatan kita yang dulu. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.

NASEHAT DARI PENGALAMAN HIDUP


NASEHAT DARI PENGALAMAN HIDUP

Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullah, bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim, “Engkau telah menemaniku dalam kurun waktu (yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?”

Hatim rahimahullah menjawab : (Saya telah mempelajari) delapan perkara :

PERTAMA : Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya akan berpisah darinya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan) kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur.

KEDUA : Saya melihat kepada Firman Allah Ta’ala, “(Dan orang-orang yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [An-Nazi'at: 40], maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada Allah Ta’ala.

KETIGA : Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga baginya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya memperhatikan Firman (Allah) Subhanahu wa Ta’ala, “Apa yang disisimu akan sirna, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” [An-Nahl: 96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya hadapkan kepada-NYA agar ia kekal untukku di sisi-Nya.

KEEMPAT : Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya mencermati Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Alllah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Al-Hujurat: 13], maka saya pun beramal dengan ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-Nya.

KELIMA : Saya melihat manusia salaing mendengki (hasad). Lalu saya memperhatikan Firman (Allah) Ta’ala, “KAMI telah menentukan antara mereka penghidupan mereka.” [Az-Zukhruf: 32], maka saya pun meninggalkan hasad.

KEENAM : Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya mencermati Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh.” [Fathir: 6], maka saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithan sebagai musuh satu-satunya.

KETUJUH : Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (Allah) Ta’ala, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” [Hud: 6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa yang merupakan hak Allah terhadapku dan saya tinggalkan apa yang untukku di sisi-Nya.

KEDELAPAN : Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada pegangan usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada Allah.

[Bahajatul Majalis Wa Anisul Muqim Wal Musafir Juz II hal 12-13]

Sumber : Majalah An-Nashihan Volume 12 Tahun 1428H/2007M - Rubrik Mutiara Salaf
Semoga Bermanfaat ...

Silahkan saudara-saudariku yang baik, yang mau share atau co-pas, dengan senang hati. Semoga bermanfaat. Semoga pula Allah Ta'ala berikan pahala kepada yang membaca, yang menulis, yang menyebarkan, yang mengajarkan dan yang mengamalkan… Aamiin, Aamiin, Aamiin ya Alloh ya Rabbal’alamin …

---Salam Santun Ukhuwah Karena Alloh---

  dipersilahkan dengan senang hati bagi saudara-saudari yang mau menandai atau ngtag, SEMOGA BERMANFAAT dan TERIMA KASIH)

Muhammad Luthfi Nurfakhri, CIPTAKAN ALAT UNTUK BANTU PETANI, LUTHFI JADI JUARA SAINS DUNIA

CIPTAKAN ALAT UNTUK BANTU PETANI, LUTHFI JADI JUARA SAINS DUNIA 

Penggunaan pupuk yang tidak optimal berdampak pada hasil padi yang kurang berkualitas. Berangkat dari masalah ini seorang siswa kelas 2 SMAN 1 Bogor, Muhammad Luthfi Nurfakhri, tergerak untuk menciptakan sebuah alat yang secara konseptual merevolusi metode Bagan Warna Daun (BWD) yang lazim digunakan oleh petani. Alat tersebut diberi nama Digital Leaf Colour Chart (DLCC/Bagan Warna Daun Digital).

Alat yang dikembangkannya ini menggunakan fototransistor yang bisa mendeteksi warna daun padi. Cara kerjanya, hanya dengan menempelkan alat sensor seperti barcode ke daun padi, maka akan tampil pada layar DLCC tampilan keperluan ukuran pupuk yang harus disebarkan dalam hitungan kilogram per hektar.

Alat ini tak hanya bermanfaat bagi petani, namun berhasil menyabet juara tiga pada kompetisi International Science and Engineering Fair (ISEF). Acara yang dihelat produsen chip Intel ini berlangsung 14-18 Mei 2012 lalu di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Nama Luthfi terpilih di urutan tiga besar dari 1.549 finalis yang berasal dari 70 negara. Didukung LIPI, kini remaja kelahiran 6 Oktober 1995 ini sedang menantikan hak paten DLCC rampung, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah besar untuk keperluan para petani di Tanah Air dan dijual ke luar negeri.